UKM Teater GABI '91

Garda Anak Bangsa Indonesia

  • Share |

    Dokter Gadungan

    11 November 2011, 12:39, dibaca 3523 kali

    Naskah untuk Pentas Awal Tahun
    Adaptasi dari naskah “Dokter Gadungan” karya Moliere


    ADEGAN I
    Panggung gelap…cahaya muncul perlahan, terlihat sebuah taman yang sederhana dengan dua bangku di kanan kiri panggung dan beberapa tanaman yang menghiasinya.
    Terdengar suara musik dangdut dari arah dalam…makin lama-makin keras…masuk seorang laki-laki sambil menari ala dangdut…
    Suami : Ah…siang-siang begini memang enak mendengarkan lagu dangdut, sambil duduk santai menunggu terbenamnya matahari sore…menikmati hidup apa salahnya kan?...Daripada di rumah ketemu sama nenek sihir dan mendengarkan kicauan-kicauannya yang hampir sama setiap hari…omongi masalah lemari, piring, gelas, garpu sampai-sampai kobokan, yang ujung-ujungnya duit…ha…dasar wanita…bikin pusing. Ah, sudahlah tidak usah diteruskan, lebih baik aku istirahat dulu.(berbaring di atas bangku sambil bersantai)

    Tiba-tiba dari arah dalam terdengar suara wanita yang berteriak-teriak memanggil dengan keras.
    Isteri : Hei, suami tidak punya perasaan dimana kamu, ha? Dicari-cari malah menghilang entah kemana. Awas ya kalau ketemu…
    Isteri : (masuk dan mencari) Oh…disini rupanya. Enak ya bisa santai-santai. He..mas…bangun….bangun…bangun (keras)
    Suami : Ha…apa sih mengganggu orang istirahat…(terbangun)
    Istrei : Aku minta cerai, cerai, cerai……! Cerai sekarang juga…saya sudah bosen hidup seperti ini…pokoknya cerai…
    Suami : Sst…diam. Paling tidak pelankan sedikit suara cemprengmu itu, malu kalau kedengaran orang…bikin pusing…
    Isteri : Apa kau bilang suaraku cempreng…biar-biar semua orang dengar…dasar tidak tahu di untung…kerjamu cuma bisa judi, judi dan pasang nomor togel, semua barang dirumah sudah habis kau gadaikan sampai-sampai ranjang tidur pun ikut kau gadaikan.
    Suami : Itu supaya kamu bisa bangun lebih pagi, tahu?
    Isteri : Alaaah, alasan…coba sekarang mana duit hasil semua barang yang digadaikan itu…mana?....pasti sudah kamu buat judi dan pasang nomor togelkan?....
    Suami : Diem. Toh, itu kan cuma variasi, penghilang rasa kebosanan dan supaya dapat duit banyak.
    Isteri : Enak saja kalau ngomong (kesamping) Ya Tuhan, semoga orang ini di sambar petir.
    Suami : (kesamping juga) Dasar nenek sihir, bisanya cuma bikin jengkel. Memang benar Aristoteles mengatakan bahwa seorang isteri lebih jahat dari seekor naga.
    Isteri : Hei, dengarkan! Aku mau kau menyesuaikan diri denganku…aku sudah bosen hidup seperti ini.
    Suami : Sudah…sudahlah…Aku tidak mau ribut lagi…Kau itu seharusnya merasa beruntung dapat suami seperti aku.
    Isteri : Apa, beruntung? Aku ini malah buntung dapat suami seperti kamu…hei, mas pikirkan anak kita itu ada empat, semuanya mau minta makan…dasar tidak punya perasaan. Itulah laki-laki, tidak tahu diri, seenaknya saja lepas tanggung jawab.
    Suami : Sudahlah buat apa ribut-ribut. Nanti ku hajar baru tahu rasa (suara keras)
    Isteri : (mengambil tongkat dan menyodorkannya pada suami) Hajar, nih hajar. Kau kira aku takut. Dasar suami edan, tidak tahu diri, anak isteri ditelantarkan.
    Suami : Huu…baik (mengambil tongkat) rasakan ini (memukul isteri) bikin kesel (isteri menghindar dan terjadi perebutan tongkat) mau melawan ya? Melawan.

    Tiba-tiba masuk tukang jamu…
    Tk. Jamu : Ei,.ei, ei...stop.. .stop...masak isteri kok dipukuli, udah gila ya mas. Sudah berhenti, toh. Hayo, berhenti. Nanti saya laporkan hansip, loh.
    Isteri : Hei, minggir kamu. Ini urusan kami (Tk. Jamu tidak mau mundur dan hendak dipukul) Saya yang mau dan minta dipukul. Apa urusannya dengan hansip, jangankan hansip, polisi dan menwa sekalipun kami tidak takut. Ya kan, mas?.
    Suami : Ya, ya, ya…kita tidak takut sama siapa tadi? Menwa. Apa itu Menwa?
    Isteri : Dasar tolol…Menwa itu menteri pemberdayaan wanita.
    Suami : Oh…Hei, jangan memaki-maki aku didepan umum, malu. Dan, kau jangan ikut campur.
    Isteri : Ya…Atau mau kena ini (mengangkat tongkat)
    Tk. Jamu : Aduh, jangan toh mbak. Iya, deh saya tidak akan ikut campur, mau nonton saja. Ayo silakan diteruskan lagi acara pukul-pukulannya. Kalau butuh bantuan, saya bersedia membantu. Betul loh mbak, dengan senang hati.
    Suami : Hei, setan. Sudah ku bilang jangan ikut campur. Sekarang keluar…Keluaaaar….hayo, minggat sana. Disini tidak perlu bantuanmu.
    Tk, Jamu : Aduh, sabar toh. Iya, ya, ini juga saya mau pergi (kesamping) mendingan saya jualan jamu lagi daripada dipukuli disini, takut…(keluar)
    Isteri : Bagus ya, mau mukulin isteri kayak itu tadi.
    Suami : Aduh, maaf . Saya khilaf, lagipula kamu yang mulai duluan. Maaf ya…
    Isteri : Tidak sudi aku memaafkanmu…
    Suami : Maafkan aku ya…kalau pukulan sekali dua kali itu kan artinya pukulan kasih sayang, bisa menambah gairah cinta.
    Isteri : Alaaah…gombal. Kalau mau merayu cari cara yang lain. Kuno!
    Suami : Biar cara kuno, yang penting kamu tetap mencintaiku (merayu). Sudah, aku mau pergi dulu. (keluar)
    Isteri : He…dasar edan. Walaupun dia suamiku. Tapi, aku harus cari jalan buat balas dendam. Seenaknya saja mukulin isteri. Pokoknya aku harus dapat akal untuk balas dendam.

    Tiba-tiba masuk 2 orang yang seperti mengendap-endap dan mencari sesuatu dengan indera penciumannya…
    Pelayan 2: Wah, aku rasa disini memang benar tempatnya. Aku merasakan bau-bau seperti di Rumah Sakit.
    Pelayan 1: Ya, penciumanku juga mengatakan begitu.
    Isteri : Ehm…ehm…maaf ada keperluan apa ya?
    Pelayan 2: Eh...ada orang, toh. Maaf, mbak. Begini kami ini sebetulnya sedang mencari orang.
    Isteri : Mencari orang? Loh, itu kan orang semuanya (menunjuk penonton).
    Pelayan 1: Bukan, bukan orang-orang itu…kalau mereka semua sih dari tadi melihat kami terus. Pasti orang kampung sini, ya? Pantas cara melihatnya seperti itu, tidak pernah melihat orang keren sih.
    Pelayan 2: Begini, kami ini sedang mencari orang pintar mbak.
    Isteri : Aduh, maaf kalau begitu anda salah alamat. Mencari orang pintar itu bukan disini tapi disekolahan atau ditempat kuliah.
    Pelayan 1: Kalau itu semua orang juga tahu. Maksudnya orang pintar atau dokter yang super ahli, yang bisa menyembuhkan penyakit anak majikan kami.
    Isteri : Dokter?....Lho, memangnya anak majikan anda kenapa? Sakit ayan? Flu burung?....oh…atau barangkali demam berdarah ya…emang tuh, lagi musim sekarang. Makanya harus hati-hati dan jaga kebersihan supaya tidak kena DBD.
    Pelayan 2: Bukan itu. Penyakitnya aneh. Kadang-kadang bicaranya seperti orang kerasukan dan tidak jelas artinya.
    Isteri : (dengan gembira)…oh..wah, kebetulan. Untung kalian berdua lewat sini. Disini memang ada seorang laki-laki yang bisa menyembuhkan penyakit apa saja.
    Pelayan 1: Yang benar, mbak?
    Isteri : Ya, iya lah…tapi dia sekarang sedang mencari kayu. Kalian tunggu saja disini biasanya dia lewat sini.
    Pelayan 2: Dokter kok mencari kayu? Maksudnya dia mencari kayu untuk ramuan obat?
    Isteri : Oh, tidak. Dia itu memang dokter yang nyentrik. Hobinya mencari kayu. Pokoknya kalau dilihat sepintas tidak ada potongan bahwa dia itu seorang dokter. Kadng-kadang dia berlagak bodoh dan suka menyembunyikan kepintarannya.
    Pelayan 1: Nah, dokter yang aneh juga ya? Memang cocok untuk penyakit aneh yang diderita oleh anak majikan kami. Ya, sama-sama aneh. Namanya siapa, mbak?
    Isteri : Oh, nama saya. Kenalkan saya……………
    Pelayan 1: Maksud saya bukan nama mbak tapi nama dokter itu (ke pelayan 2) sok penting banget sih…
    Isteri : Oh…saya kira nama saya…jadi malu. Nama dokter itu Karto. Dia mudah sekali dikenali karena kadang-kadang suka bicara sendiri, kadang diam seperti pemikir, bahkan sering juga ketawa sendiri.
    Pelayan 2: Bicara dan ketawa sendiri? Apa dia benar-benar pintar dan bisa menyembuhkan penyakit, mbak?
    Isteri : Asal kalian tahu saja, enam bulan yang lalu, ada tetangga saya, perempuan, oleh seorang dukun sudah dikatakan mati. Sewaktu akan dikubur, saya datang bersama dokter itu. Perempuan itu hanya dilihat sebentar, kemudian ia keluarkan botol kecil yang berisi air, diteteskannya ke dalam mulut perempuan itu. Kontan perempuan itu bangun dan pulang ke rumahnya, seperti tidak terjadi apa-apa.
    Pelayan 1: Wah, hebat betul dokter itu.
    Isteri : Terus, tiga hari yang lalu, ada anak kecil jatuh dari atap rumah ke halaman yang banyak batunya. Kaki dan tangannya patah. Kepalanya retak. Kalian tahu apa terjadi pada anak itu?
    Pelayan 2: Pasti anak itu mati (ikut berduka)
    Isteri : Tidak. Karena oleh dokter itu, badan anak itu di olesi dengan obat yang selalu dibawanya. Eh, anak itu langsung melompat dan bangun, terus lari memanggil teman-temannya mengajak bermain.
    Pelayan 1: Bukan main, hebatnya dokter itu. Dia pasti bisa menyembuhkan anak majikan kita.
    Pelayan 2: Ya…kita harus bertemu dengan dokter itu. Terima kasih, mbak atas informasinya.
    Isteri : Ya…sebagai manusia kita memang harus saling tolong-menolong. Jangan lupa, jika kalian bertemu dengan dokter itu yang penting pukuli dulu dia supaya dia mau mengaku kalau seorang dokter (keluar).
    Pelayan 1: Itu gampang. Kalau cuma masalah pukul-memukul, beres.
    Pelayan 2: Ya…semakin dia keras menolak, semakin keras pula kita memukulinya. (mereka duduk menunggu)
    Suami : (masuk sambil bersenandung) Ah…capeknya. Lebih baik aku beristirahat dulu (duduk dan minum dari botol) Wah, sekarang ini mencari kayu saja susahnya setengah mati. Bagaimana tidak, setiap batang pohon yang berada dihutan ini sudah ada yang punya. Siapa lagi kalau bukan orang yang punya duit. Belum lagi penebangan pohon yang dilakukan dengan alasan untuk membuka lahan baru, entah mau dijadikan apa. Kalau masalah illegal logging itu tidak usah dibicarakan lagi karena sudah jadi makanan sehari-hari. Lama-lama semakin gundul saja nantinya hutan di Negara ini. (mengoceh terus sembrai minum)…Manis, sayangku…aku cinta padamu, hanya kamu yang selalu menemaniku…oh, botolku sayang (mengelus-elus botol) Mari sayangku, jangan sekali-laki kamu kosong kalau tidak aku bisa sengsara (minum lagi dengan penuh nikmat)
    Pelayan 1: Tidak salah lagi, dia pasti orangnya
    Pelayan 2: Ya…pasti dia. Sudah jelas ciri-cirinya, suka bicara sendiri.
    Suami : (ke samping) sepertinya mereka dari tadi memperhatikan aku terus dan berunding. Mau apa mereka? Jangan-jangan mereka penembak misterius. (dia meletakkan botol)
    Pelayan 1: Tuan, apa nama tuan Karto? (mendekat)
    Suami : Ya dan tidak. Tergantung apa maksud anda berdua.
    Pelayan 2: Kami hanya ingin berkenalan dengan tuan.
    Suami : Baiklah, kalau begitu, namaku memang karto. Kalau ada sangkut-pautnya dengan profesiku, aku sih mau-mau saja.
    Pelayan 1: Syukur, Alhamdullilah kami bisa bertemu dengan tuan. Tuan memang orang hebat. Orang pandai seperti tuan memang sering dicari orang.
    Suami : Kalau hanya soal potong-memotong kayu, akulah orangnya.
    Pelayan 2: Bukan itu maksud kami, tuan.
    Suami : Kerja keras memang hobi saya. Kayu-kayu yang saya potong, saya jamin tidak ada cacatnya. Ini bukan promosi, loh. Bisa dibuktikan.
    Pelayan 1: Bukan itu juga maksud kami, tuan.
    Suami : Kalian boleh cari di tempat lain, tidak ada kualitasnya yang lebih bagus daripada kayu saya.
    Pelayan 2: Maksud kami begini, tuan. Alaah..buat apa buang-buang waktu seperti ini.
    Pelayan 1: Benar, tidak ada gunanya. Buat apa dokter berpura-pura?.
    Suami : Apa? Dokter? Wah, sudah gila kalian ini.
    Pelayan 2: Aduh, tuan. Tolong janganlah berpura-pura lagi pada kami.
    Suami : Pura-pura? Kalian ini sebenarnya mau apa? Memangnya kalian mengira saya ini siapa?
    Pelayan 1: Kami sudah tahu siapa tuan sebenarnya. Tuan adalah dokter yang hebat!
    Suami : Dokter? Aku ini bukan dokter dan belum pernah jadi dokter.
    Pelayan 2: Tuan janganlah berlagak bodoh. Jangan sampai kami terpaksa…terpaksa…
    Suami : Apa? Terpaksa apa? Silakan kalian mau melakukan apa. Lha, wong saya ini bukan dokter.
    Pelayan 1: Wah, benar juga kata mbak tadi.
    Pelayan 2: Sudahlah, pukuli saja biar dia ngaku!
    Pelayan 1: Tuan, sekali lagi, saya minta lebih baik tuan mengaku saja siapa tuan sebenarnya
    Pelayan 2: Jangan berpura-pura lagi, Tuan. Ngaku saja kalau tuan ini dokter.
    Suami : Aduh, celaka. Orang-orang ini gila semuanya. Saya ini bukan dokter, bukan dokter!
    Pelayan 1: Oh, jadi tuan bukan dokter?
    Suami : Tuli, ya? Sudah berapa kali saya katakana saya ini bukan dokter. Telinga kalian ini jangan sering-sering disumpeli gabus.
    Pelayan 2: Wah, kalau begitu kami minta maaf, tuan. Kami terpaksa melakukannya (mengambil kayu dan mulai memukuli)
    Suami : Aduh, aduh, aduh...ampun…sudah, sudah cukup…ya, ya…saya turuti apa mau kalian (berlutut)
    Pelayan 1: Nah, coba dari tadi tuan mengaku kami jadi tidak perlu memukuli tuan. Tapi, percayalah tuan, kami benar-benar menyesal dan minta maaf.
    Suami : Saya mau tanya pada kalian, apa sebenarnya ini semua. Kenapa saya dipaksa mengaku sebagai dokter.
    Pelayan 2: Apa tuan masih belum mau mengaku juga bahwa tuan dokter.
    Suami : Saya bukan dokter. Biar sampai mampus juga, tetap bukan dokter. (kedua pelayan kembali memukulinya)…aduh…ampun…ya, ya…betul aku doketr. Lebih baik aku mengaku jadi dokter, daripada dipukuli sampai mampus.
    Pelayan 1: Itu baru bagus. Kalau begini urusan jadi lancar, tuan. Terus terang kami menyesal telah memukuli tuan.
    Suami : (ke samping) Sialan, badanku jadi remuk begini. Jadi, sekarang saya jadi dokter.
    Pelayan 2: Benar, tuan. Apa tuan adalah dokter yang tersohor seantreo jagat. Tuan tidak perlu khawatir, tuan akan puas dan akan memperoleh berapa saja yang tuan minta, asal tuan mau mengikuti kami.
    Suami : Jadi, saya boleh minta bayaran sesukaku? Kalau begitu, enak juga. Ya, saya memang dokter tapi tadi saya hanya lupa saja. Saya ini dokter spesialis bedah bongkar pasang jantung, otak, dan usus. Tapi hanya terima bongkar, tidak terima pasang. Sekarang saya mau diajak kemana?
    Pelayan 1: Sekarang tuan kami ajak bertemu dengan majikan kami, untuk mengobati anak perempuannya yang kehilangan kesanggupannya dalam berbicara.
    Suami : Aduh, kalau yang seperti itu saya belum tahu.
    Pelayan 2: Alah, tuan ini memang suka bercanda dan merendahkan diri.
    Suami : Ya, ya, aku tahu sekarang, anak majikan kalian itu tengggorokannya pasti bisulan. Jadi, lehernya harus dipelintir dan dicekik sampai bisulnya pecah. Lho, tapi aku harus pakai baju dokter dulu.
    Pelayan 1: Ah, gampang itu tuan. Nanti kita mampir dipasar dan kita cari ditukang loak.
    Suami : (menyodorkan botol ke palayan 2) Pegang. Didalamnya ku simpan obatku. (keluar semua).

    ADEGAN II
    Pelayan 1: Nyonya pasti puas. Kami membawa dokter terhebat. Segala penyakit pernah ia sembuhkan.
    Pelayan 2: Bahkan, dia bisa menghidupkan orang yang sudah mati.
    Pelayan 1: Tapi, kadang-kadang ia agak aneh dan suka lupa pada dirinya sendiri, nyonya.
    Pelayan 2: Ia suka melawak dan juga sedikit sinting.
    Majikan : Aku jadi tidak sabar lagi bertemu dengan dokter itu. Ayo, jemput dia sekarang juga.
    Pelayan 1: Siap, nyonya. Saya akan menjemput dokter hebat itu. (keluar dengan pelayan 2)
    Pengasuh: Tapi, nyonya. Menurut saya dokter itu paling sama juga dengan yang lain. Obatnya pasti yang itu-itu juga. Nyonya, anak perawan nyonya tidak perlu obat macam-macam. Dia itu butuh laki-laki.
    Majikan : Sudahlah, aku tahu kalau kau itu sangat dekat dengan anakku. Aku hanya ingin ia sembuh dari panyakitnya.
    Pengasuh: Nyonya, percayalah. Nona tidak butuh dokter. Nona sakit lantaran kepingin kawin.
    Majikan : Kawin? Dia itu kan sudah mau aku kawinkan. Tapi, ia yang menolak.
    Pengasuh: Wajar saja nona menolak, nyonyakan mau mengawinkannya dengan bujang lapuk yang tidak ada bagus-bagusnya. Kalau mau menjodohkan itu, pilih-pilih orang dulu dong, nyonya. Saya beritahu ya nyonya kalau nona itu sudah cinta mati dengan laki-laki yang bernama Andre.
    Majikan : Apa? Andre? Huh, aku tak sudi punya menantu yang miskin seperti dia.
    Pengasuh: Tapi, asal nyonya tahu saja kalau si Andre itu punya paman yang kaya raya dan Andre lah yang nantinya menjadi ahli warisnya.
    Majikan : Ah, sudahlah. Kau tidak perlu mempengaruhi aku. Lagipula untuk apa mengharapkan harta orang lain.
    Pengasuh : Betul, nyonya, harta itu memang nomor dua. Tapi, yang penting sekarang itukan kebahagiaan anak nyonya sendiri.
    Majikan : Sudahlah, jangan bikin aku tambah pusing. Sebaiknya kau pergi sekarang juga dan temani anakku yang sedang sakit itu.
    Pengasuh: Baik, nyonya. (keluar)
    Pelayan 1: Nyonya….lihat siapa yang kami bawa.
    Pelayan 2: Kami membawa dokter terhebat yang akan menyembuhkan penyakit nona.
    Majikan : Oh…tuan dokter. Saya sangat senang sekali dapat bertemu dengan anda. Saya sudah dengar dari pelayan-pelayan saya bahwa dokter adalah dokter terhebat yang dapt menyembuhkan segala macam penyakit. Tuan sangat saya butuhkan. Oleh karena itu….
    Suami: (memotong pembicaraan majikan) Hippocrater mengatakan….bahwa kita harus mengenakan topi kita.
    Majikan : Hippocrates bilang begitu? Dalam bab mana?
    Suami : Ya…dalam bab mengenai topi, lah.
    Majikan : Memangnya ada bab mengenai topi? Ya…sudahlah karena Hippocrates yang mengatakannya, itu berarti kita harus patuh.
    Suami : Begini dokter, saya telah mendengar kabar bahwa….(dipotong)
    Majikan : Maaf, sebentar, tuan bicara pada siapa?
    Suami : Ya…pada nyonya?
    Majikan : Oh…saya bukan dokter.
    Suami : Jadi, nyonya bukan dokter? Betul? (mengambil tongkat lalu memukul majikan)
    Majikan : Aduh…ampun…ampun…betul, saya ini bukan dokter.
    Suami : Nah, sekarang nyonya sudah menjadi seorang dokter. Saya diangkat jadi dokter dengan cara seperti itu juga.
    Majikan : (sambil menahan sakit, bicara pada pelayan 1 & 2) Hei, orang macam apa yang kalian bawa kesini?
    Pelayan 2: Tadi kan sudah saya bilang. Dia itu suka melawak, nyonya.
    Pelayan 1: Sudahlah, nyonya. Jangan diambil pusing. Yang penting dokter itu bisa mengobati anak nyonya.
    Majikan : Tapi, saya tidak mau dipukuli seperti tadi.
    Suami: Aduh…Nyonya, saya minta maaf atas kelancangan saya karena telah memukul nyonya (menyesal).
    Majikan: Oh…tidak apa-apa, tuan dokter. Begini, saya mempunyai anak gadis yang sedang menderita penyakit aneh.
    Suami : Nyonya, saya senang sekali keran saya sangat diperlukan disini dan dapat membantu keluaraga nyonya. Oh ya, siapa nama anak nyonya?
    Majikan : Marlina, tuan.
    Suami : Oh, nama yang sangat indah. Pasti orangnya sangat cantik seperti ibunya.
    Majikan : Ah, tuan bisa saja (malu). Sebentar saya akan menyuruh dia kesini untuk bertemu dengan tuan juga. (menelpon pengasuh) Halo, ya…apa kau sedang bersama Marlina?...bagus kalau begitu. Sekarang kau ajak Marlina kemari sekarang juga. Cepat ya…(berbicara lagi pada doter/suami) aduh, maaf ya tuan dokter jadi merepotkan tuan.
    Suami : Tidak menjadi masalah, bukankah menolong sesama itu diwajibkan. Aku akan sabar menunggu.
    Majikan : Tuan sungguh baik hati. Ehm…kalau boleh saya tahu mana obat-obat tuan?
    Suami : (menunjuk kepalanya) Didalam sini.
    Majikan : Wah, ternyata tuan memang benar-benar dokter yang hebat.
    Pengasuh: (masuk bersama Marlina) Nyonya…ini nona Marlina, nyonya.
    Majikan : Nah, itu dia anak saya, tuan.
    Suami : Oh, ini pasiennya?
    Majikan : Ya, tuan. Dia adalah satu-satunya anakku yang paling berharga dan aku akan sangat menderita jika ia terus seperti ini dan mati.
    Suami : Oh, jangan. Gadis secantik ini tidak boleh mati. Aku kira seorang laki-laki manapun juga pasti akan sangat senang bersama dia. (Marlina tersenyum malu)
    Pengasuh: Ah…lihat, tuan membuatnya tertawa.
    Suami : Bagus kalau begitu, seorang dokter itu memang harus dapat membuat pasiennya tertawa. Nah, nona coba sekarang kau katakan apa yang sakit?
    Marlina : Hah, hih, hah, hoh (menunjuk mulutnya, kepala dan hatinya)
    Suami : Apa yang kau katakana, nona?
    Marlina : Hah, hih, hah, hoh (menunjuk mulutnya, kepala dan hatinya)
    Suami : Apa ?
    Marlina : Hah, hih, hah, hoh (menunjuk mulutnya, kepala dan hatinya)
    Suami : Apa, Hah, hih, hah, hoh? (menirukan) ia bicara apa? Aku tidak mengerti?
    Majikan : Itulah penyakitnya, tuan. Dia seperti oarng bisu, samapi saat ini tidak ada yang tahu sebabnya. (sedih)
    Suami : Apa ia pernah pergi berobat ke tempat lain?
    Majikan : Ya, tuan.
    Suami : Apa hasilnya memuaskan?
    Majikan : Aku tidak terlalu mengerti, tuan. Aku bukan ahli dalam hal itu.
    Suami : Ulurkan tanganmu (kepada pasien dan memeriksa tangannya) Wah, pergelangan tangannya menunjukkan kalau anak nyonya bisu.
    Pengasuh: Lihat, nyonya. Bagaimana ia menerka penyakit yang diderita oleh nona.
    Suami : Dokter-dokter yang hebat memang dapat dengan cepat menerka penyakit yang diderita oleh pasiennya. Saya dapat langsung menebak bahwa anak nyonya sakit bisu.
    Majikan : Ya…seperti itulah yang saya katakana tadi, tuan. Tapi, yang saya minta tuan mengatakan apa sebabnya.
    Suami : Gampang sekali, nyonya. Ia bisu karena ia tidak bisa bicara normal.
    Majikan : Iya, tapi kenapa is tidak bisa bicara normal?
    Suami : (mengangkat tangan) Aristoteles adalah orang besar. Lebih besar dari saya. Menurut dia dan juga menurut saya, berhentinya gerakan lidah disebabkan oleh semacam keadaan yang diantara kami para sarjana menyebutnya dengan, keadaan jahat. Keadaan jahat itu artinya….sebab upa yang timbul di daerah dimana penyakit, ehm…pada saatnya…ya…akan…ehm…apa nyonya mengerti bahasa latin?
    Majikan : Tidak, tuan.
    Suami : (senyum mengejek kemudian mulai berkata) Cabricias arcituram, catalamus, nomination, bonum, deus sanstus, estne oratio Latinas? Etiam, ya, quare, kenapa, concordat generi numerum et casus.
    Majikan : Oh, aku menyesal sekali tidak pernah belajar bahasa latin. (kesamping) apa yang ia katakana? Aku tidak mengerti sepatahkata pun.
    Pengasuh: Wah, orang ini pintar sekali, nyonya.
    Suami : (dengan bangga) Nah, kalau uap yang saya sebutkan tadi datang dari kiri dimana terdapat hati dan kanan terdapat jantung, maka paru-paru yang punya hubungan dengan otak melalui vena kaya, jalannya berpapasan dnegan uap itu, uap memenuhi….dan karena uap-uap tersebut…kuharap nyonya mengerti…dan kerena uap tersebut membawa penyakit…dengar ini baik-baik.
    Majikan : Ya
    Suami : Membawa semacam penyakit…yang menyebabkan…coba nyonya perhatikan.
    Majikan : Ya…(penasaran)
    Suami : Yang disebabkan oleh ketajaman getah yang keluar dalam liang diafragma, maka uap ini…..ossabandus dan guipsa milus. Itulah makanya anak tuan jadi bisu.
    Pengasuh: Luar biasa, nyonya. Penjelasan tuan dokter ini dari kata-kata yang ia gunakan terdengar begitu ilmiah.
    Majikan : Ya…tidak ada dokter sehebat tuan. Tapi, saya jadi bingung, yaitu tempat jantung dan hati. Atau barangkali tuan sedikit salah tadi. Bukankah letak jantung disebelah kiri dan hati disebelah kanan.
    Suami : Ya….dulu memang begitu. Tapi, itu semua sudah berubah.
    Majikan : Oh, kalau itu saya belum tahu, tuan. Maaf.
    Suami : Tidak apa, nyonya.
    Majikan : Lalu, apa yang harus dilakukan untuk menyembuhkan penyakit aneh anak saya?.
    Suami : Nasehatku, suruh dia kembali berbaring ditempat tidur dan sebagai obat…berikan padanya tempe goreng yang direndam dalam kecap terlebih dahulu.
    Majikan : Kenapa obatnya tempe, tuan?
    Suami : Karena kalau temped an kecap dicampur, akan lahir satu sifat yang baik yang bisa membuat orang bicara. Apa nyonya tidak tahu bahwa makanan itu selalu diberikan pada burung beo, makanya mereka pandai bicara.
    Majikan : Oh, begitu. Tuan benar-benar dokter yang hebat. Ya, saya akan menyediakan tempe goreng dan kecap.
    Suami : Nah, karena pekerjaan saya beres, kalau begitu saya permisi dulu. Selamat siang, nyonya.
    Majikan : Tunggu sebentar, tuan. Ini, sekedar transport.
    Suami :: Ah…saya bukan mencari uang, tuan.
    Majikan : Ambillah, tuan. Nanti saya tambah lagi, nyonya.
    Suami : Aduh….sebetulnya saya tidak perlu uang, nyonya. Saya buka dokter sewaaan, saya cuma mau mengamalkan kepandaian saja, nyonya (tapi tetap mengambil uang).
    Majikan : Tuan bisa saja. Ya…sudahlah samapai nanti tuan. (keluar)
    Suami : (menghitung uang) Wah, banyak juga ya.
    Andre : Tuan dokter kan? Saya sudah lama menunggu tuan.
    Suami : (heran) Menunggu saya. Oh, kau pasti ingin berobatkan? (memegang tangan dan dahinya) benar tebakan saya, kau pasti cacingan.
    Andre : Saya tidak sakit, tuan.
    Suami : Tidak sakit? Kenapa kau tidak bilang dari tadi.
    Andre : Begini tuan, saya ingin melamar jadi asisten tuan.
    Suami : Kau kira aku ini siapa? Jangan menghina, ya. Dokter itu pekerjaan yang…yang…
    Andre : (mengeluarkan uang dan memberikannya) Ini tuan.
    Suami : Yang…yang…karena aku orang yang terhormat, jadi….(meminta uang lagi) kurang.
    Andre : (memberi uang lagi dengan kesal) Tuan saya mendengar kabar kalau mau mengobati penyakit Marlina. Tuan, harus tahu bahwa penyakit yang akan tuan obati itu adalah penyakit pura-pura. Para dokter telah memikirkannya dan telah mengatakan bahwa sebabnya dari otak, ada yang mengatakan dari usus, dari ginjal dan dari hati. Tapi, sebab sebetulnya adalah ‘Cinta’. Marlina mengidap penyakit ini agar ia dapat terhindar dari pernikahan yang mengancamnya. Tuan, lebih baik kita pergi dari sini supaya jangan ada orang yang tahu kita kalau bersama-sama. Nanti akan aku ceritakan apa yang aku inginkan dari tuan.


     

  • 23 Juli 2013, 13:44
    vishnusant:
    “Bogus Doctor” is one of the best theatre performance held in Indonesia recently. It got wide applaud and opinion among the audience wherever it played. The script for Bogus Doctor was written by Moliere. Here the complete script of “Bogus Doctor” is provided. Thanks for sharing the complete script here.

  • 08 Mei 2013, 06:29
    anita dei astuti:
    Maaf sebelumnya. Saya tertrik sama naskah ini kak, Boleh tau gag gmna alurnya? Makasih,saya dari isi surakarta smile Mksih. Dtgu seceptnya ya kak jwbnya.

  • 06 Oktober 2012, 08:16
    Rayonna:
    <url>http://www.compare-insurers.com/|cheapest car insurance</url> :( <url>http://www.autosinsurance4u.com/|auto insurance</url> :-O <url>http://www.unamedica.net/|viagra for woman</url> 37825


Leave Your Comment:

  • grinLOLcheesesmilewinksmirkrolleyesconfused
    surprisedbig surprisetongue laughtongue rolleyetongue winkraspberryblank starelong face
    ohhgrrrgulpoh ohdownerred facesickshut eye
    hmmmmadangryzipperkissshockcool smilecool smirk
    cool grincool hmmcool madcool cheesevampiresnakeexcaimquestion





cerita kita..

  • Jika teater kehilangan daya tarik dan ditinggalkan penonton, maka yang pertama harus disalahkan adalah orang teater itu sendiri, bukan para penontonnya karena daya tarik teater datang dari orang teater. Penonton hanya menonton lalu menyerap -dengan mata, rasa, dan hati- kemudian mencaci maki atau menghargai serta berbagi.



GABI itu...

  • menghargai proses bukan hasil

Members login

tentang GABI....

Links

Organisasi Mahasiswa

Category

Berita

  • 2012; semangat baru

    Salam...

    20 Januari 2012, Selengkapnya »

  • E-KTP dan Politik

    UKM Teater GABI  '91 kembali menggelar pementasan dul muluk di auditorium RRI Palembang pada Senin, 28 November 2011....

    09 Desember 2011, Selengkapnya »

  • Dokter Gadungan

    Naskah untuk Pentas Awal Tahun Adaptasi dari naskah “Dokter Gadungan” karya Moliere ADEGAN I Panggung gelap…cahaya muncul perlahan, terlihat sebuah...

    11 November 2011, Selengkapnya »

  • Perkara Selamet

    PERKARA SELAMET Karya : Muhammad Yunus Adegan 01. Panggung adalah gudang tua yang sudah lama ditinggalkan. Gudang dibelakang perkarangan sekolah yang berhutan. Ketiga...

    11 November 2011, Selengkapnya »

Festamasio V

Naskah Drama

Polling

  • Apakah website GABI sangat bermanfaat?

    Ya

    Tidak

    Bingung